Saturday, November 15, 2014

Usaha Kecil Menengah Sebagai Ujung Tombak Perekonomian Daerah


Tulisan Softskill

Usaha Kecil Menengah yang menjadi ujung tombak perekonomian suatu daerah




  
Disusun Oleh :

Nama       : Debby Natalia

NPM        : 12213088

Kelas        : 2EA33



FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS GUNDARMA

2014
 


KATA PENGANTAR


Dengan memanjatkan Puji dan Syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat dan karuni-Nya dapat menyelesaikan penyusunan Tulisan Mengenai Usaha Kecil Menengah yang menjadi ujung tombak perekonomian suatu daerah.
Tugas  tulisan ini menyangkut tentang usaha kecil yang ada di suatu daerah yang menjadi ujung tombak perekonomian di daerah tersebut yang saya ambil contoh usaha Bpk Misa Suwarsa UKM Jamur / Supa di daerah Karawang Jawa barat.

Pada kesempatan ini juga penulis ingin mengucapkan terima kasih yang yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan penyusunan Penulisan UKM ini. Semoga dengan adanya Tulisan ini, dapat menginsiprasi Mahasaiswa/i untuk berusaha atau berwirausaha dan sukses seperti Bpk. Misa Suwarsa
 Dalam pembuatan tulisan ini, penulis masih sadar masih banyak terdapat kekurangan, terutama sekali dalam hal penyajian materi. Untuk itu kritik dan saran pembaca saat penting bagi penulis.
            Akhir kata semoga Tulisan UKM ini dapat berguna bagi diri penulis pada khususnya dan bagi para pembaca pada umumnya.



Bekasi, 16 November 2014







DAFTAR ISI
 
Kata Pengantar………………………………………………………………...........      i

Daftar isi……………………………………………………………………............      ii


I.              Pengertian Usaha Kecil Menengah……………………………….....       1

II.             Kelebihan dan Kelemahan Usaha Kecil Menengah…………….......       1

III.           Kriteria Usaha Kecil Menengah………………………………….....        3

IV.           Kisah UKM Jamur di karawang Milik Bpk. Misa Suwarsa………...        4

V.             Kesimpulan……………………………………………………….....       7




 

I.                  Pengertian UKM

 
UKM Adalah sebuah istilah yang mengacu ke jenis usaha kecil yang memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 200.000.000 tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha. Dan usaha yang berdiri sendiri. Menurut Keputusan Presiden RI no. 99 tahun 1998 pengertian Usaha Kecil adalah: “Kegiatan ekonomi rakyat yang berskala kecil dengan bidang usaha yang secara mayoritas merupakan kegiatan usaha kecil dan perlu dilindungi untuk mencegah dari persaingan usaha yang tidak sehat.”

Ada 3 jenis usaha yang bisa dilakukan oleh UKM untuk menghasilkan laba. Ketiga jenis usaha tersebut adalah :

a.       Usaha Manufakur (Manufacturing Business)

Yaitu usaha yang mengubah input dasar menjadi produk yang bisa dijual kepada konsumen. Kalau anda bingung, contohnya adalah konveksi yang menghasilkan pakaian jadi atau pengrajin bambu yang menghasilkan mebel, hiasan rumah, souvenir dan sebagainya.



b.      Usaha Dagang (Merchandising Business)

Adalah usaha yang menjual produk kepada konsumen. Contohnya adalah pusat jajanan tradisional yang menjual segala macam jajanan tradisional atau toko kelontong yang menjual semua kebutuhan sehari-hari.

c.       Usaha Jasa (Service Business)
Yakni usaha yang menghasilkan jasa, bukan menghasilkan produk atau barang untuk konsumen. Sebagai contoh adalah jasa pengiriman barang atau warung internet (warnet) yang menyediakan alat dan layanan kepada konsumen agar mereka bisa browsing, searching, blogging atau yang lainnya.


II.               Kelebihan Dan Kelemahan Usaha Kecil Menengah




A.   Kelebihan Usaha Kecil Menengah



1.      Inovasi dalam teknologi yang dengan mudah terjadi dalam pengembangan produk.

2.      Hubungan kemanusian yang akrab di dalam perusahaan kecil

3.       Fleksibilitas dan kemampuan menyesuaikan diri terhadap kondisi pasar yang berubah dengan cepat dibandingkan dengan perusahaan yang berskala besar yang pada umumnya birokratis.
4.      Terdapat dinamisme manajerial dan peranan kewirausahaan.


B.   Kelemahan Usaha Kecil Menengah

1.      Kesulitan pemasaran
Hasil dari studi lintas Negara yang dilakukan oleh James dan Akarasanee (1988) di sejumlah Negara ASEAN menyimpulkan salah satu aspek yang terkait dengan masalah pemasaran yang umum dihadapi oleh pengusaha UKM adalah tekanan-tekanan persaingan, baik dipasar domestik dari produk-produk yang serupa buatan pengusaha-pengusaha besar dan impor, maupun dipasar ekspor.

2.      Keterbatasan Finansial
UKM di Indonesia menghadapi dua masalah utama dalam aspek finansial antara lain: modal (baik modal awal maupun modal kerja) dan finansial jangka panjang untuk investasi yang sangat diperlukan untuk pertumbuhan output jangka panjang.

3.      Keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM)
Keterbatasan sumber daya manusia juga merupakan salah satu kendala serius bagi UKM di Indonesia, terutama dalam aspek-aspek kewirausahaan, manajemen, teknik produksi, pengembangan produk, control kualitas, akuntansi, mesin-mesin, organisasi, pemprosesan data, teknik pemasaran, dan penelitian pasar. Semua keahlian tersebut sangat diperlukan untuk mempertahankan atau memperbaiki kualitas produk, meningkatkan efisiensi dan produktifitas dalam produksi, memperluas pangsa pasar dan menembus pasar baru.

4.      Masalah Bahan Baku
Keterbatasan bahan baku dan input-input lain juga sering menjadi salah satu masalah serius bagi pertumbuhan output atau kelangsungan produksi bagi UKM di Indonesia.

5.      Keterbatasan teknologi
Berbeda dengan Negara-negara maju, UKM di Indonesia umumnya masih menggunakan teknologi tradisonal dalam bentuk mesin-mesin tua atau alat-alat produksi yang sifatnya manual. Keterbelakangan teknologi ini tidak hanya membuat rendahnya jumlah produksi dan efisiensi di dalam proses produksi, tetapi juga rendahnya kualitas produk yang dibuat serta kesanggupan bagi UKM di Indonesia untuk dapat bersaing di pasar global. Keterbatasan teknologi disebabkan oleh banyak faktor seperti keterbatasan modal investasi untuk membeli mesin-mesin baru, keterbatasan informasi mengenai perkembangan teknologi, dan keterbatasan sumber daya manusia yang dapat mengoperasikan mesin-mesin baru.



III.           Kriteria Usaha Kecil Menengah (UKM)

A.    Kriteria usaha kecil menurut UU No. 9 tahun 1995 adalah sebagai berikut:



1.      Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp. 200.000.000,- (Dua Ratus Juta Rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha.

2.      Memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp. 1.000.000.000,- (Satu Miliar Rupiah).

3.      Milik Warga Negara Indonesia.

4.      Berdiri sendiri, bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang tidak dimiliki, dikuasai, atau berafiliasi baik langsung maupun tidak langsung dengan Usaha Menengah atau Usaha Besar.

5.      Berbentuk usaha orang perorangan , badan usaha yang tidak berbadan hukum, atau badan usaha yang berbadan hukum, termasuk koperasi. 



VI.            UKM Jamur di karawang Milik Bpk. Misa Suwarsa

Misa Suwarsa : "Jurig Supa" dari Karawang

MISA SUWARSA
 
Lahir : Depok, Jawa Barat, 9 April 1959
Istri : Yani Sumarni (38)
Anak : Muhamad Hidayatulah (16); Siti Nurjanah (7)
Pendidikan :
- SD, SMP, SMA di Depok
- S-1 Kimia Teknik Universitas Muhammadiyah Jakarta
- S-2 Kimia Teknik Institut Teknologi Bandung (ITB)
- S-3 Universitas Sorbonne, Perancis dan ITB
- Belajar jamur di Universitas Shanghai, 2004
Pekerjaan :
- Kepala Pusat Pendidikan dan Latihan Jamur Merang, Kelompok Tani Jamur Prima, Desa
Mekar jati, Kecamatan Karawang Barat, Karawang, Jabar



Misa Suwarsa, praktisi mikrobiologi yang juga petani jamur merang di Desa Mekarjati, Kabupaten karawang, Jawa Barat, berhasil menciptakan bibit jamur merang sendiri. Kini dia dikenal sebagai ahli "supa" alias jamur.

OLEH DEDI MUHTADI

Misa seperti menjalani konsep Restorasi Meiji, manabu (belajar), maneru (meniru), dan nusumu (mencuri) ilmu pengetahuan dan teknologi. Doktor teknik kimia Institut Teknologi Bandung (1985) ini berhasil menciptakan bibit jamur merang sendiri. Setelah 30 tahun dia mengembangkan bibit itu, kini mantan pegawai badan Tenaga Nuklir Nasional itu berhasil menjadi jurig supa (bahasa Sunda) atau hantu jamur. Misa dianggap sebagai ahli atau tukang jamur.
Selain pernah dikucilkan keluarga, ia juga dikucilkan almamater akibat tindakan "restorasinya" dari ranah intelektual akademis ke pematang sawah. "Ijazah S-3 hingga kini belum pernah saya pegang karena harus ditebus Rp.200 juta. Saya tidak mau..........," ujarnya.
Kisahnya dimulai tahun 1989-an ketika ia memutuskan keluar dari pengajar di ITB dan beralih menjadi petani jamur. "Saat itu gaji saya sudah Rp.1.920 juta, ketika (nilai satu) dollar AS masih Rp.1.500,"kenangnya.
Keputusan itu mengundang kemarahan orangtuanya,ia lalu diusir dari keluarganya di Depok. hanya dengan bekal Rp.10.000, ia pun harus meninggalkan keluarga besarnya. "Itu uang dari ibu saya," katanya.
Misa dianggap intelektual dungu. Dengan bekal uang dan baju seadanya, ia pergi ke Karawang. Daerah lumbung padi ini merupakan kawasan potensial budidaya jamur merang.
Setibanya di Karawang, Misa langsung mencari kubung, bekas budidaya jamur yang sudah tidak dipakai di Tanjungpura, perbatasan Karawang-Bekasi. Dia berjalan kaki berkilo-kilo meter menyusuri irigasi mencari pemilik kubung untuk meminjamnya.
Hari sudah malam setiba di dekat kubung. "Saya tidur di kandang kambing karena petani ini anaknya 12 orang," kenangnya.
Petani miskin yang ditemuinya itu tertarik dengan cerita Misa soal budidaya jamur, tetapi tidak punya modal untuk membudidayakannya. Sementara empat kubung yang tersedia di sana harus disewa Rp.200.000 per kubung.
Misa pun kemudian meminjam uang "monyet" (pinjaman rentenir) . Jika pinjam Rp.200.000, harus kembali Rp.300.000 dalam sebulan.
Mereka butuh modal Rp.600.000 untuk media tanam, yakni jerami dan kapas. uang yang tersedia adalah uang "setan" atau "uang iblis".
Warga desa menyebut uang pinjaman itu demikian karena pengembalian uang panas itu amat menjerat. Jika pinjam Rp.600.000, harus kembali Rp.1,2 juta dalam sebulan.
Misa benar-benar dipersimpangan jalan. Yang bisa dia lakukan hanya shalat tahajud (shalat malam) selama tiga malam. Tuhan pun memberikan jalan untuk melangkah. Dia mendapat pinjaman tanpa agunan.
Dia memperbaiki kubung dengan mengangkut jerami sendiri dari sawah. Daun kelapa untuk biliknya dia ambil dengan memanjat pohon sendiri. "Badan saya lecet-lecet," ceritanya.
Singkat kata, delapan hari kemudian, bibit jamur yang dia buat sendiri tumbuh dengan baik dan dijual di pasar Cikampek, Karawang, dengan harga total Rp.1,45 juta.
Dia mengembalikan pinjaman Rp.1,2 juta sesuai perjanjian tertulis diatas segel. "Uang tersisa hanya Rp.250.000," ujarnya. Namun, setelah itu pemilik tanah kubung tidak mengizinkan lagi Misa menanam jamur.
Misa akhirnya bertemu dengan pemilik kubung bekas sopir Kedutaan Besar Amerika Serikat. Pemilik kubung itu memang menyerahkan pengelolaan, tetapi tidak meminjamkan modalnya.
Misa kembali kepada rentenir. Tetapi, kali ini hanya ada uang "jalan". Itu sebutan uang pinjaman yang harus dikembalikan secepat mungkin. Jika meminjam Rp.300.000, harus kembali Rp.600.000 dalam delapan hari!
Tanpa berpikir panjang, ia modali empat kubung. Delapan hari kemudian, Misa mampu mengembalikan modalnya kepada tukang pukul yang menagihnya. Dari satu kubung, pinjaman itu lunas selama delapan hari. Tiga kubung lainnya mampu menghasilkan 1 ton jamur merang.
Empat bulan kemudian, dia berhasil membeli empat kubung bersama 1.500 meter lahanya di Tanjungpura, Karawang.

Dibakar warga

Misa memulai kehidupan baru usaha pembibitan dan budidaya jamur merang di tempat itu. Dari empat kubung terus dikembangkan menjadi 12 kubung, dan hasilnya puluhan juta rupiah.
Misa lalu membeli 1 hektar sawah senilai Rp.50 juta tahun 1991 untuk memproduksi jerami. Karena tinggal di lingkungan petani miskin, perkembangan usaha Misa yang sangat cepat itu menimbulkan kecemburuan.
"Kami sudah berpuluh-puluh tahun menanam padi tetap miskin, tapi si jurig supa hanya beberapa bulan sudah kaya raya," kenang Misa menirukan umpatan warga. Mereka pun ramai-ramai membakar kubung-kubung jamur Misa.
"Hati saya hancur saat melihat kepulan asap keluar dari sisa-sisa pembakaran kubung," kata Misa. Ia pun stres dan hampir frustasi menerima peristiwa pada pertengahan tahun 1992 itu. Namun, ia segera bangkit, membangun 30 kubung baru senilai Rp.35 juta dengan uangnya yang tersimpan di dalam drum selama usahanya berbulan-bulan.
Usahanya berkembang pesat karena dibantu puluhan tenaga kerja. Seiring berjalannya waktu, Misa membuka pelatihan magang bagi para calon wira usaha melalui Pusat Pendidikan dan Latihan Jamur Merang Kelompok Tani Jamur Prima, Karawang.
Misa bercerita mendapat ilmu "perjamuran" itu semasa masih mengajar di ITB, tinggal di Dago bandung Utara. Saat itu dia bertetangga dengan Prof Han, guru besar yang saat itu menjadi dosen tamu mikrobiologi di ITB
Suatu saat, profesor itu harus segera pulang ke negerinya, Jerman. Dia menitipkan buku-buku miliknya yang tak sempat dibawa pulang ke negerinya kepada Misa. "Saya percayakan kepada kamu. Buku-buku ini jangan ssampai keluar karena bersama 40 profesor lain kami sudah disumpah untuk tidak keluar ke negara lain," ujar Prof Han.
Dasar "tukang insinyur sableng", sesudah guru besar pergi, ia melakukan nusumu, mempelajari buku-buku mikrobiologi itu. "Ternyata bahasanya China ssehingga saya harus minta bantuan seorang teman menerjemahkan," kata Misa.
Dari situlah Misa nekat hengkang dari ITB dan menjadi jurig supa hingga sekarang. Dari pusat pendidikannya, kini sudah ratusan orang menjadi pembudidaya jamur diseantero Nusantara.

Dikutip dari KOMPAS, (KAMIS, 10 FEBRUARI 2011)

 


V.                  KESIMPULAN



Usaha Kecil dan Menengah (UKM) mempunyai peran yang strategis dalam pembangunan ekonomi nasional, oleh karena selain berperan dalam pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja juga berperan dalam pendistribusian hasil-hasil pembangunan. Dalam krisis ekonomi yang terjadi di negara kita sejak beberapa waktu yang lalu, dimana banyak usaha berskala besar yang mengalami stagnasi bahkan berhenti aktifitasnya, sektor Usaha Kecil dan Menengah (UKM) terbukti lebih tangguh dalam menghadapi krisis tersebut. Untuk itu harus ada langkah yang ditempuh untuk mengatasi krisis tersebut.

Oleh karena itu usaha kecil menengah harus mendapat dukungan penuh oleh pemerintah agar usaha kecil menegah bisa lebih berkembang dan juga dapat membuka lapangan pekerjaan yang lebih besar lagi dan juga dapat mengurangi jumlah pengangguran dan juga agar perekonomian lebih stabil dengan adanya sector dari usaha kecil menengah.

No comments:

Post a Comment