Tulisan
Softskill
Usaha
Kecil Menengah yang menjadi ujung tombak perekonomian suatu daerah
Disusun Oleh :
Nama :
Debby Natalia
NPM :
12213088
Kelas :
2EA33
FAKULTAS
EKONOMI
UNIVERSITAS
GUNDARMA
2014
KATA
PENGANTAR
Dengan
memanjatkan Puji dan Syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat
dan karuni-Nya dapat menyelesaikan penyusunan Tulisan Mengenai Usaha Kecil
Menengah yang menjadi ujung tombak perekonomian suatu daerah.
Tugas
tulisan ini menyangkut tentang usaha
kecil yang ada di suatu daerah yang menjadi ujung tombak perekonomian di daerah
tersebut yang saya ambil contoh usaha Bpk Misa Suwarsa UKM Jamur / Supa di
daerah Karawang Jawa barat.
Pada
kesempatan ini juga penulis ingin mengucapkan terima kasih yang yang
sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu penulis dalam
menyelesaikan penyusunan Penulisan UKM ini. Semoga dengan adanya Tulisan ini,
dapat menginsiprasi Mahasaiswa/i untuk berusaha atau berwirausaha dan sukses
seperti Bpk. Misa Suwarsa
Dalam pembuatan tulisan ini, penulis masih sadar masih banyak terdapat kekurangan, terutama sekali dalam hal penyajian materi. Untuk itu kritik dan saran pembaca saat penting bagi penulis.
Akhir
kata semoga Tulisan UKM ini dapat berguna bagi diri penulis pada khususnya dan
bagi para pembaca pada umumnya.Dalam pembuatan tulisan ini, penulis masih sadar masih banyak terdapat kekurangan, terutama sekali dalam hal penyajian materi. Untuk itu kritik dan saran pembaca saat penting bagi penulis.
Bekasi, 16 November
2014
DAFTAR
ISI
Kata Pengantar………………………………………………………………........... i
Daftar isi……………………………………………………………………............ ii
I. Pengertian Usaha Kecil
Menengah………………………………..... 1
II. Kelebihan dan Kelemahan Usaha Kecil
Menengah……………....... 1
III. Kriteria Usaha Kecil
Menengah…………………………………..... 3
IV. Kisah UKM Jamur di karawang Milik Bpk.
Misa Suwarsa………... 4
V. Kesimpulan………………………………………………………..... 7
I. Pengertian UKM
UKM Adalah sebuah
istilah yang mengacu ke jenis usaha kecil yang memiliki kekayaan bersih paling
banyak Rp 200.000.000 tidak termasuk tanah
dan bangunan tempat usaha. Dan usaha yang berdiri sendiri. Menurut Keputusan
Presiden RI no. 99 tahun 1998 pengertian Usaha Kecil adalah: “Kegiatan ekonomi
rakyat yang berskala kecil dengan bidang usaha yang secara mayoritas merupakan
kegiatan usaha kecil dan perlu dilindungi untuk mencegah dari persaingan usaha yang
tidak sehat.”
Ada 3 jenis usaha yang bisa
dilakukan oleh UKM untuk menghasilkan laba. Ketiga jenis usaha tersebut adalah
:
a.
Usaha Manufakur (Manufacturing
Business)
Yaitu usaha yang mengubah input dasar menjadi produk yang
bisa dijual kepada konsumen. Kalau anda bingung, contohnya adalah konveksi yang
menghasilkan pakaian jadi atau pengrajin bambu yang menghasilkan mebel, hiasan
rumah, souvenir dan sebagainya.
b.
Usaha Dagang (Merchandising
Business)
Adalah usaha yang menjual produk kepada konsumen. Contohnya
adalah pusat jajanan tradisional yang menjual segala macam jajanan tradisional
atau toko kelontong yang menjual semua kebutuhan sehari-hari.
c.
Usaha Jasa (Service Business)
Yakni usaha yang menghasilkan jasa, bukan menghasilkan produk
atau barang untuk konsumen. Sebagai contoh adalah jasa pengiriman barang atau
warung internet (warnet) yang menyediakan alat dan layanan kepada konsumen agar
mereka bisa browsing, searching, blogging atau yang lainnya.
II.
Kelebihan Dan Kelemahan Usaha Kecil
Menengah
A.
Kelebihan Usaha Kecil Menengah
1.
Inovasi dalam teknologi yang dengan
mudah terjadi dalam pengembangan produk.
2.
Hubungan kemanusian yang akrab di
dalam perusahaan kecil
3.
Fleksibilitas dan kemampuan menyesuaikan diri
terhadap kondisi pasar yang berubah dengan cepat dibandingkan dengan perusahaan
yang berskala besar yang pada umumnya birokratis.
4.
Terdapat dinamisme manajerial dan
peranan kewirausahaan.
B.
Kelemahan Usaha Kecil Menengah
1. Kesulitan pemasaran
Hasil
dari studi lintas Negara yang dilakukan oleh James dan Akarasanee (1988) di
sejumlah Negara ASEAN menyimpulkan salah satu aspek yang terkait dengan masalah
pemasaran yang umum dihadapi oleh pengusaha UKM adalah tekanan-tekanan
persaingan, baik dipasar domestik dari produk-produk yang serupa buatan
pengusaha-pengusaha besar dan impor, maupun dipasar ekspor.
2.
Keterbatasan Finansial
UKM
di Indonesia menghadapi dua masalah utama dalam aspek finansial antara lain:
modal (baik modal awal maupun modal kerja) dan finansial jangka panjang untuk
investasi yang sangat diperlukan untuk pertumbuhan output jangka panjang.
3.
Keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM)
Keterbatasan
sumber daya manusia juga merupakan salah satu kendala serius bagi UKM di
Indonesia, terutama dalam aspek-aspek kewirausahaan, manajemen, teknik
produksi, pengembangan produk, control kualitas, akuntansi, mesin-mesin,
organisasi, pemprosesan data, teknik pemasaran, dan penelitian pasar. Semua
keahlian tersebut sangat diperlukan untuk mempertahankan atau memperbaiki
kualitas produk, meningkatkan efisiensi dan produktifitas dalam produksi,
memperluas pangsa pasar dan menembus pasar baru.
4.
Masalah Bahan Baku
Keterbatasan
bahan baku dan input-input lain juga sering menjadi salah satu masalah serius
bagi pertumbuhan output atau kelangsungan produksi bagi UKM di Indonesia.
5.
Keterbatasan teknologi
Berbeda
dengan Negara-negara maju, UKM di Indonesia umumnya masih menggunakan teknologi
tradisonal dalam bentuk mesin-mesin tua atau alat-alat produksi yang sifatnya
manual. Keterbelakangan teknologi ini tidak hanya membuat rendahnya jumlah
produksi dan efisiensi di dalam proses produksi, tetapi juga rendahnya kualitas
produk yang dibuat serta kesanggupan bagi UKM di Indonesia untuk dapat bersaing
di pasar global. Keterbatasan teknologi disebabkan oleh banyak faktor seperti
keterbatasan modal investasi untuk membeli mesin-mesin baru, keterbatasan
informasi mengenai perkembangan teknologi, dan keterbatasan sumber daya manusia
yang dapat mengoperasikan mesin-mesin baru.
III.
Kriteria
Usaha Kecil Menengah (UKM)
A.
Kriteria usaha kecil menurut UU No.
9 tahun 1995 adalah sebagai berikut:
1.
Memiliki kekayaan bersih paling
banyak Rp. 200.000.000,- (Dua Ratus Juta Rupiah) tidak termasuk tanah dan
bangunan tempat usaha.
2.
Memiliki hasil penjualan tahunan
paling banyak Rp. 1.000.000.000,- (Satu Miliar Rupiah).
3.
Milik Warga Negara Indonesia.
4.
Berdiri sendiri, bukan merupakan
anak perusahaan atau cabang perusahaan yang tidak dimiliki, dikuasai, atau
berafiliasi baik langsung maupun tidak langsung dengan Usaha Menengah atau
Usaha Besar.
5.
Berbentuk usaha orang perorangan ,
badan usaha yang tidak berbadan hukum, atau badan usaha yang berbadan hukum,
termasuk koperasi.
VI. UKM Jamur di karawang Milik Bpk. Misa Suwarsa
Misa Suwarsa : "Jurig Supa" dari Karawang
Lahir : Depok, Jawa Barat, 9 April
1959
Istri : Yani Sumarni (38)
Anak : Muhamad Hidayatulah (16);
Siti Nurjanah (7)
Pendidikan :
- SD, SMP, SMA di Depok
- S-1 Kimia Teknik Universitas
Muhammadiyah Jakarta
- S-2 Kimia Teknik Institut
Teknologi Bandung (ITB)
- S-3 Universitas Sorbonne, Perancis
dan ITB
- Belajar jamur di Universitas
Shanghai, 2004
Pekerjaan :
- Kepala Pusat Pendidikan dan
Latihan Jamur Merang, Kelompok Tani Jamur Prima, Desa
Mekar jati, Kecamatan Karawang
Barat, Karawang, Jabar
Misa
Suwarsa, praktisi mikrobiologi yang juga petani jamur merang di Desa Mekarjati,
Kabupaten karawang, Jawa Barat, berhasil menciptakan bibit jamur merang
sendiri. Kini dia dikenal sebagai ahli "supa" alias jamur.
OLEH DEDI MUHTADI
Misa
seperti menjalani konsep Restorasi Meiji, manabu (belajar), maneru (meniru),
dan nusumu (mencuri) ilmu pengetahuan dan teknologi. Doktor teknik kimia
Institut Teknologi Bandung (1985) ini berhasil menciptakan bibit jamur merang
sendiri. Setelah 30 tahun dia mengembangkan bibit itu, kini mantan pegawai
badan Tenaga Nuklir Nasional itu berhasil menjadi jurig supa (bahasa
Sunda) atau hantu jamur. Misa dianggap sebagai ahli atau tukang jamur.
Selain pernah dikucilkan keluarga,
ia juga dikucilkan almamater akibat tindakan "restorasinya" dari
ranah intelektual akademis ke pematang sawah. "Ijazah S-3 hingga kini
belum pernah saya pegang karena harus ditebus Rp.200 juta. Saya tidak
mau..........," ujarnya.
Kisahnya dimulai tahun 1989-an
ketika ia memutuskan keluar dari pengajar di ITB dan beralih menjadi petani
jamur. "Saat itu gaji saya sudah Rp.1.920 juta, ketika (nilai satu) dollar
AS masih Rp.1.500,"kenangnya.
Keputusan itu mengundang kemarahan
orangtuanya,ia lalu diusir dari keluarganya di Depok. hanya dengan bekal
Rp.10.000, ia pun harus meninggalkan keluarga besarnya. "Itu uang dari ibu
saya," katanya.
Misa dianggap intelektual dungu.
Dengan bekal uang dan baju seadanya, ia pergi ke Karawang. Daerah lumbung padi
ini merupakan kawasan potensial budidaya jamur merang.
Setibanya di Karawang, Misa langsung
mencari kubung, bekas budidaya jamur yang sudah tidak dipakai di Tanjungpura,
perbatasan Karawang-Bekasi. Dia berjalan kaki berkilo-kilo meter menyusuri
irigasi mencari pemilik kubung untuk meminjamnya.
Hari sudah malam setiba di dekat
kubung. "Saya tidur di kandang kambing karena petani ini anaknya 12
orang," kenangnya.
Petani miskin yang ditemuinya itu
tertarik dengan cerita Misa soal budidaya jamur, tetapi tidak punya modal untuk
membudidayakannya. Sementara empat kubung yang tersedia di sana harus disewa
Rp.200.000 per kubung.
Misa pun kemudian meminjam uang
"monyet" (pinjaman rentenir) . Jika pinjam Rp.200.000, harus kembali
Rp.300.000 dalam sebulan.
Mereka butuh modal Rp.600.000 untuk
media tanam, yakni jerami dan kapas. uang yang tersedia adalah uang
"setan" atau "uang iblis".
Warga desa menyebut uang pinjaman
itu demikian karena pengembalian uang panas itu amat menjerat. Jika pinjam
Rp.600.000, harus kembali Rp.1,2 juta dalam sebulan.
Misa benar-benar dipersimpangan
jalan. Yang bisa dia lakukan hanya shalat tahajud (shalat malam) selama tiga
malam. Tuhan pun memberikan jalan untuk melangkah. Dia mendapat pinjaman tanpa
agunan.
Dia memperbaiki kubung dengan
mengangkut jerami sendiri dari sawah. Daun kelapa untuk biliknya dia ambil
dengan memanjat pohon sendiri. "Badan saya lecet-lecet," ceritanya.
Singkat kata, delapan hari kemudian,
bibit jamur yang dia buat sendiri tumbuh dengan baik dan dijual di pasar
Cikampek, Karawang, dengan harga total Rp.1,45 juta.
Dia mengembalikan pinjaman Rp.1,2
juta sesuai perjanjian tertulis diatas segel. "Uang tersisa hanya
Rp.250.000," ujarnya. Namun, setelah itu pemilik tanah kubung tidak
mengizinkan lagi Misa menanam jamur.
Misa akhirnya bertemu dengan pemilik
kubung bekas sopir Kedutaan Besar Amerika Serikat. Pemilik kubung itu memang
menyerahkan pengelolaan, tetapi tidak meminjamkan modalnya.
Misa kembali kepada rentenir.
Tetapi, kali ini hanya ada uang "jalan". Itu sebutan uang pinjaman
yang harus dikembalikan secepat mungkin. Jika meminjam Rp.300.000, harus
kembali Rp.600.000 dalam delapan hari!
Tanpa berpikir panjang, ia modali
empat kubung. Delapan hari kemudian, Misa mampu mengembalikan modalnya kepada
tukang pukul yang menagihnya. Dari satu kubung, pinjaman itu lunas selama
delapan hari. Tiga kubung lainnya mampu menghasilkan 1 ton jamur merang.
Empat bulan kemudian, dia berhasil
membeli empat kubung bersama 1.500 meter lahanya di Tanjungpura, Karawang.
Dibakar warga
Misa memulai kehidupan baru usaha
pembibitan dan budidaya jamur merang di tempat itu. Dari empat kubung terus
dikembangkan menjadi 12 kubung, dan hasilnya puluhan juta rupiah.
Misa lalu membeli 1 hektar sawah
senilai Rp.50 juta tahun 1991 untuk memproduksi jerami. Karena tinggal di
lingkungan petani miskin, perkembangan usaha Misa yang sangat cepat itu
menimbulkan kecemburuan.
"Kami sudah berpuluh-puluh
tahun menanam padi tetap miskin, tapi si jurig supa hanya beberapa bulan
sudah kaya raya," kenang Misa menirukan umpatan warga. Mereka pun
ramai-ramai membakar kubung-kubung jamur Misa.
"Hati saya hancur saat melihat
kepulan asap keluar dari sisa-sisa pembakaran kubung," kata Misa. Ia pun
stres dan hampir frustasi menerima peristiwa pada pertengahan tahun 1992 itu.
Namun, ia segera bangkit, membangun 30 kubung baru senilai Rp.35 juta dengan
uangnya yang tersimpan di dalam drum selama usahanya berbulan-bulan.
Usahanya berkembang pesat karena
dibantu puluhan tenaga kerja. Seiring berjalannya waktu, Misa membuka pelatihan
magang bagi para calon wira usaha melalui Pusat Pendidikan dan Latihan Jamur
Merang Kelompok Tani Jamur Prima, Karawang.
Misa bercerita mendapat ilmu
"perjamuran" itu semasa masih mengajar di ITB, tinggal di Dago
bandung Utara. Saat itu dia bertetangga dengan Prof Han, guru besar yang saat
itu menjadi dosen tamu mikrobiologi di ITB
Suatu saat, profesor itu harus
segera pulang ke negerinya, Jerman. Dia menitipkan buku-buku miliknya yang tak
sempat dibawa pulang ke negerinya kepada Misa. "Saya percayakan kepada
kamu. Buku-buku ini jangan ssampai keluar karena bersama 40 profesor lain kami
sudah disumpah untuk tidak keluar ke negara lain," ujar Prof Han.
Dasar "tukang insinyur
sableng", sesudah guru besar pergi, ia melakukan nusumu,
mempelajari buku-buku mikrobiologi itu. "Ternyata bahasanya China
ssehingga saya harus minta bantuan seorang teman menerjemahkan," kata
Misa.
Dari situlah Misa nekat hengkang
dari ITB dan menjadi jurig supa hingga sekarang. Dari pusat
pendidikannya, kini sudah ratusan orang menjadi pembudidaya jamur diseantero
Nusantara.
Dikutip dari KOMPAS, (KAMIS, 10
FEBRUARI 2011)
V. KESIMPULAN
Usaha Kecil
dan Menengah (UKM) mempunyai peran yang strategis dalam pembangunan ekonomi
nasional, oleh karena selain berperan dalam pertumbuhan ekonomi dan penyerapan
tenaga kerja juga berperan dalam pendistribusian hasil-hasil pembangunan. Dalam
krisis ekonomi yang terjadi di negara kita sejak beberapa waktu yang lalu,
dimana banyak usaha berskala besar yang mengalami stagnasi bahkan berhenti
aktifitasnya, sektor Usaha Kecil dan Menengah (UKM) terbukti lebih tangguh
dalam menghadapi krisis tersebut. Untuk itu harus ada langkah yang ditempuh
untuk mengatasi krisis tersebut.
Oleh karena
itu usaha kecil menengah harus mendapat dukungan penuh oleh pemerintah agar
usaha kecil menegah bisa lebih berkembang dan juga dapat membuka lapangan
pekerjaan yang lebih besar lagi dan juga dapat mengurangi jumlah pengangguran
dan juga agar perekonomian lebih stabil dengan adanya sector dari usaha kecil
menengah.


No comments:
Post a Comment